Sebuah tamparan dari pulau Dewata

Beberapa hari perjalanan bisnis ke Bali sangatlah penuh makna, bisa membuka mata hati yang selama ini tertutup oleh kenikmatan dunia, bisa menyadarkan mata hati yang selama ini selalu tertutup dengan indahnya materi yang terbungkus dengan indah dalam sebuah nama yang tidak kalah indahnya….. prospek bisnis

Di pulau dewata ini saya menemukan banyak sekali pura yang “bertebaran” di seantero pelosok pulau. Di setiap rumah baik itu rumah sederhana yang hanya berukuran standar ataupun rumah yang tergolong besar dan mewah, semuanya pasti selalu ada pura untuk bersembahyang.

Sebetulnya hal ini biasa saja karena saya sudah sering melihatnya dari dulu tetapi entah kenapa pada waktu itu saya kok membandingkan dengan diri saya sendiri, saya bandingkan dengan keyakinan yang saya yakini. Kenapa kok saya tidak punya tempat khusus untuk berdoa seperti itu.

Tempat sembahyang seperti ini banyak tersebar di seluruh pulau dewata

Kalaupun saya punya itupun juga cuma secuil dari beberapa meter materi yang ada, tidak sebanding dengan rahmat yang akan diberikan oleh Beliau Sang Maha Pencipta. Kok rasanya sungguh terlalu banget saya menempatkan tempat untuk komunikasi dengan Yang Maha Pencipta hanya cukup dengan ruangan selebar lembaran sajadah dan itupun cukup dengan sajadah yang sudah “berumur”.

Mereka, masyarakat bali mempunyai tempat khusus untuk bermunajat dan berkomunikasi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tempatkan tempat sembahyang di suatu tempat yang mereka anggap “suci”

Pasti akan ada beribu macam alasan mengenai tempat khusus ini tetapi tetap saja kok teganya kita (termasuk saya) menempatkan Sang Pemberi Rejeki di sela-sela sebagian kecil ruangan rumah kita. Alangkah bijaksananya jika kita mempunyai sebuah ruangan khusus untuk curhat kepada Yang Maha Esa seperti saudara kita di pulau Dewata sana. Mungkin tidak usah terlalu besar tetapi minimal ruangan tersebut adalah ruangan yang selalu terjaga kesucian dan kebersihannya

Sungguh sebuah tamparan kedalam kehidupan ritual. Saya merasakan sebagai bagian dari sebuah agama yang terbesar di negeri ini masih saja menempatkan komunikasi dengan Sang Maha Pencipta sebagai bagian ritual biasa saja yang bisa dilakukan dimana saja dengan tempat seadanya.

Semoga kita semua diberikan kemudahan oleh Yang Maha Kuasa untuk membangun sebuah tempat ibadah kecil di rumah kita…… amin

Salam sukses dunia akherat,

3 Comments (+add yours?)

  1. aditya
    May 15, 2010 @ 09:47:03

    Wah cerita yg menarik pak. Inspiring…
    Semoga hidup ini menjadi indah untuk dilalui dan bermakna untuk diceritakan. Semoga banyak asa dapat terwujudkan. Amin.

    Salam,
    Aditya

    Reply

  2. royani
    Feb 11, 2011 @ 08:28:15

    nice post.
    kunjungi juga blog saya yah, masih newbie soalnya.

    http://creativeendless.wordpress.com/2011/02/11/lestari-alamku-menjadi-selaras-hidupku/

    thanks.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: